Sarkem

Sarkem kependekan dari Pasar Kembang adalah sebuah nama Jalan di Yogyakarta, tepatnya di kecamatan Gedong Tengen sebelah selatan Stasiun Tugu Yogyakarta. Masyarakat lebih sering dan lebih suka menyingkatnya dengan “SARKEM“. Mengapa sarkem begitu terkenal dan populer, karena sarkem merupakan lokalisasi atau prostitusi tertua di Yogyakarta.

Tempatnya yang sangat strategis, di tengah atau di jantung kota Yogyakarta menjadikan sarkem sebagai tujuan wisata khususnya bagi wisataman domestik lebih khusus lagi bagi kaum ‘adam’, para lelaki. Jika masih belum tahu dimana letak Jalan Pasar Kembang, silakan cari di mbah gugel. Jika tetap bingung, yaitu sebelah baratnya Jalan Malioboro, kadang juga disebut “Gang 3” karena untuk masuk teritori sarkem adalah gang ke tiga, dari ujung Jalan Pasar Kembang (di hitung mulai dari arah timur ke barat).

Dilihat dari sejarah, SARKEM sudah ada sejak jaman kolonial Belanda atau sekitar tahun 1800an. Pada saat itu sedang dilaksanakan pembangunan rel kereta api, untuk menghubungkan kota-kota di Pulau Jawa. Nah… disekitar lokasi tersebut juga dibangun ruang-ruang untuk penginapan bagi para pekerja tersebut. Seiring dengan munculnya tempat-tempat penginapan di sekitaran ‘SARKEM’ juga dibarengi dengan bermunculan para wanita-wanita kaum hawa yang menjajakan diri bagi para pekerja (pembangunan rel kereta api) tersebut. Selanjutnya berkembanglah menjadi sebuah perkampungan lokalisasi.

Saat ini (tahun 2016) SARKEM masih berdiri, masih banyak peminatnya dan begitu ramai dikunjungi bahkan sebagai ‘Final Destination‘ bagi beberapa pelancong yang main ke kota Jogja. Siapa sajakah para wanita yang menjadi PSK (Pekerja Seks Komersial) di wilayah Sarkem.?

Para wanita yang bekerja di Sarkem mayoritas dari luar kota Yogyakarta, mereka mencoba mengkais rejeki di kota Gudeg, karena jika mangkal di kota asalnya situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Mungkin karena di kota asalnya tidak ada lokalisasi, atau mungkin di tolak oleh kaum munafik yang menganggap profesi ‘lonthe‘ sebagai profesi yang paling rendah derajatnya.

Para kupu-kupu malam ini menjajakan diri biasanya berbekal alasan klasik yaitu ‘faktor ekonomi’. Yaa… mereka para ormas, kaum munafik tidak bisa memberikan solusi yang tepat juga bagi para PSK ini. Di sisi yang lain ‘demand – supply‘ tingginya permintaan terhadap kebutuhan seks tidak bisa dihindari, alih-alih kaum lelaki pengin ‘royal‘ mencari sensasi baru, maka sangat susah sekali dan rasanya mustahil apabila di negeri ini dihapuskan dari segala bentuk praktek-praktek prostitusi. ASUdahlah…. tidak perlu munafik. Urus saja moralmu… urus saja akhlakmu… (kata bang Iwan Fals)

Sarkem Kekinian

Baiklah…. kita coba nge-trip ke Sarkem. Ada 2 (dua) pintu masuk ke Sarkem, yaitu pintu utara dan pintu selatan.

Pintu utara (biasanya parkir motor atau mobil di Stasiun Kereta Api Tugu) terus jalan ke selatan. Akan tetapi sekarang parkiran stasiun dipindah ke barat (arah ‘NGEBONG’), jadi jalan kakinya sedikit lebih jauh. (tapi tak apalah sekalian jalan-jalan menikmati suasana Jogja sembari menertawakan aktifitas dan rutinitas keseharian).

Pintu selatan yaitu melalui Jalan Sosrowijayan (jalannya satu arah).

Jika sudah masuk… (baik dari pintu utara maupun selatan) sekarang ada HTM (Harga Tanda Masuk) yaitu sebesar Rp. 2.000,- per orang sekali masuk. Uang ini digunakan untuk kas masyarakat sekitar, yaa itu seperti iuran suka rela, tanpa ada karcis fisiknya.

Setelah masuk teritori Sarkem maka akan terlihat rumah-rumah yang saling berdekatan, dan diseputaran tersebut banyak sekali para wanita yang berparas ayu, pakaian seksi dan genit. Yaa…. ini adalah lokalisasi ordinary jadi anda bisa lakukan tawar menawar (bargaining power) harga dengan mbak-mbaknya. Di dalam Sarkem banyak sekali gang-gang sempit, anda bisa blusukan dan coba melengok ke dalam rumah, jika berminat silakan ditawar atau di tanya alias SSI (speak speak iblis).

Jika anda melangkahkan kaki, maka sesekali anda akan dijawil atau dicolek oleh mbak-mbaknya… “Ayo mas sini, masuk sama aku”, “Sini mas, aku serpis…” seperti itulah kira-kira kalimat-kalimat ajakan mereka.

Di rumah-rumah kawasan lokalisasi Sarkem tersebut juga menjual aneka minuman bir, soda, dll. Jika lelah anda bisa turun minum, atau beli bakmi Jawa juga (dibagian timur agak ke tengah). Dan adapula karaoke sederhana, anda bisa menyanyi sembari minta ditemani para WP (Wanita Penghibur) jika pengen bisa di eksekusi sekalian.

Tidak selamanya para Kupu-Kupu Malam berdiam di Sarkem, jadi tiap tahun pasti ada penghuni baru. Yaa… memang mereka SADAR BETUL bahwa profesi PSK bukanlah tujuan utama, sendainya sudah bosan mereka tentu akan move-on. Oleh karena itu tidak bisa ditentukan atau menjadi patokan bahwa di rumah yang warna ‘itu’, selalu ada mbak X. Bisa jadi tahun 2016 sudah berganti mbak Y yang lebih muda, lebih bahenol, dll, dll. Siapa tau pas hari itu mbak X lagi layanin tamu jadi anda kurang beruntung tidak berjumpa dengan beliau.

Dan… itulah indah nge-trip di Sarkem. Bagi yang baru mengenal dunia prostitusi pasti akan mengalami deg-degan, penasaran dan pengen nyoba.

Tarif di Sarkem rata-rata sekitar 100.000 – 200.000 ribu. Untuk yang bening dan muda biasanya harga banderol 200 ribu.

Tempatnya yaa seperti itulah… biasanya standar kasur dan kipas angin, jangan berharap dapat fasilitas bintang 5 untuk harga 200 ribu (ada air panas, kolam renang, break fast, dll). Saat ini ada yang telah melakukan renovasi juga sih… ada yang menyediakan kamarnya berAC, cek terakhir harganya 200 ribuan, masuk dan pilih target, karena memang ada WP (Wanita Penghibur) yang malas untuk ‘show time‘ diluar, mereka pilih di dalam rumah, sambil nonton tipi atau mainan handphone. Jika anda blusukan bisa jadi mendapat ‘mutiara dalam lumpur’ karena memang harus jeli dan banyak uji coba untuk mendapatkan sesuatu yang berharga.

Jelajahilah Sarkem… baik di sektor utara, timur, selatan maupun barat, masuklah di tiap-tiap gang, singgahi tiap-tiap rumah, ajak ngobrol dengan para WP siapa tau dapat diskon. Tapi Ingat jangan buat rusuh yah.

Hahaha…. pengen.? Atau sudah pernah jalan-jalan di Sarkem, silakan tinggalkan jejak dan komennya.

Manuk Nuwun.